FESTIVAL SENI BUDAYA ISLAMI HAUL AGUNG SULTAN FATAH KE-523 MERIAH, MASJID AGUNG DEMAK HADIRKAN RAGAM PENTAS DAN GELAR BUDAYA

Remaja Masjid Agung Demak

Festival Seni Budaya Islami Haul Agung Sultan Fatah ke-523 Meriah, Masjid Agung Demak Hadirkan Ragam Pentas dan Gelar Budaya


Demak — Gelaran Festival Seni Budaya Islami dalam rangka Haul Agung Kanjeng Raden Sultan Fatah ke-523 berlangsung meriah di kompleks Masjid Agung Demak. Kegiatan yang sudah berjalan tiga hari ini turut disiarkan melalui kanal YouTube resmi ini dibuka dengan sambutan Ketua Umum Ta’mir Masjid Agung Demak, Dr. KH. Nur Fauzi, S.Ag., M.Pd.I, yang menegaskan pentingnya melestarikan budaya, sejarah, dan nilai dakwah para wali melalui pertunjukan seni yang dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.

Acara berlangsung hangat dan penuh antusias, terlebih dengan keterlibatan aktif para remaja Masjid Agung Demak (Remasade) dalam mendokumentasikan dan menyusun rangkuman kegiatan untuk publik. Perpaduan antara hiburan, dakwah, dan edukasi terasa kuat dalam setiap penampilan.

Festival dimulai dengan sederet pertunjukan budaya yang menggambarkan karakter kuat masyarakat Demak dan akar sejarah Islam Nusantara. Urutan penampilan tersaji sebagai berikut:

1. Tari Dakwahe Sang Wali

2. Tari Jaranan

3. Tari Prajurit Ksatria NU

4. Tari Putri Campa

Keempat tari tersebut tampil dengan kemasan artistik yang kuat, memadukan unsur tradisional, nuansa islami, dan penjiwaan dari para penari yang mayoritas merupakan pelajar serta pemuda daerah.

Setelah rangkaian tari, panggung dilanjutkan penampilan musik dan religi

oleh Voltara Band dengan tiga lagu cover pop. Suasana kemudian dibuat lebih religius dengan tampilnya grup qasidah New Irsyaga, yang membawakan enam lagu: Bismillah, Serat Penjajahan, Sajadah Merah, Sifate Murid, Teman Sejati, Tombo Ati. Hadirnya musik qasidah membawa nuansa syahdu yang memperkuat pesan spiritual dalam festival ini.

 

Kemeriahan festival semakin lengkap dengan tampilnya barisan pawai dari Yayasan Al Irsyad Gajah (MTs dan MA Al Irsyad Gajah Demak), di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Institusi ini dikenal sebagai madrasah yang memadukan tradisi Islami, keterampilan modern, dan budaya riset.

MTs Al Irsyad merupakan madrasah berbasis tahfidz dengan segudang prestasi, berfokus pada pembentukan generasi muslim berakhlakul karimah, unggul teknologi, peduli lingkungan, serta kreatif dalam mengembangkan potensi diri.

Sementara itu, MA Al Irsyad hadir sebagai madrasah keterampilan dengan lima jurusan:

Teknik Audio Video, Teknik dan Bisnis Sepeda Motor, Tata Busana, Teknik Komputer Jaringan, dan Teknik Multimedia.

Kedua barisan pawai tampil energik dengan membawa pesan persatuan:

“Mengenang Pendiri Kesultanan Demak, Meneguhkan Semangat Persatuan.”

Dengan langkah tegap dan semangat khas anak muda, mereka memperlihatkan kreativitas budaya Jawa dan kebanggaan terhadap sejarah Demak.

SINOPSIS TARI

Tari Dakwahe Sang Wali

Tari ini menggambarkan pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang lembut dan penuh kearifan. Beliau merangkul budaya Jawa sebagai alat penyampaian ajaran Islam melalui wayang, tembang, rebana, dan kesenian tradisional. Tarian ini menjadi penghormatan atas jejak panjang dakwah Sunan Kalijaga yang menyatukan spiritualitas dan budaya hingga dikenal mancanegara.

Tari Putri Campa

Mengisahkan sosok Puteri Campa—ibu dari Sultan Fatah—yang berperan besar dalam sejarah lahirnya Kesultanan Demak. Dengan warna merah sebagai simbol keberanian dan keanggunan, tarian ini merefleksikan perjalanan hidup sang puteri yang mempersembahkan keteguhan hati dan cinta untuk tanah Demak.

Tari Prajurit Ksatria NU

Terinspirasi dari Swargaloka Art, tarian ini menampilkan kegagahan prajurit dengan gerakan dinamis, kuat, dan penuh disiplin. Kostum khas ksatria serta simbol-simbol perjuangan NU menjadikan pertunjukan ini sebagai representasi keberanian sekaligus penguatan identitas budaya dan keagamaan masyarakat.

Tari Jaran Kepang

Tarian tradisional yang menggambarkan keberanian prajurit berkuda. Meski lekat dengan karakter maskulin, kini tari jaran kepang juga dibawakan oleh penari perempuan, menunjukkan adaptasi seni terhadap perkembangan zaman. Gerakan gemulai namun tegas ini menjadi simbol kekuatan, latihan perang, dan kedisiplinan prajurit Jawa.

Festival Seni Budaya Islami dalam rangka Haul Agung Sultan Fatah ke-523 ini menjadi bukti bahwa dakwah, seni, dan budaya dapat berjalan selaras. Antusiasme masyarakat, penampilan para pelajar, serta dokumentasi dari Remaja Masjid Agung Demak membuat acara ini bukan hanya meriah, tetapi juga sarat makna sejarah dan spiritualitas.

Remasade berharap kegiatan seperti ini terus menjadi ruang belajar, ruang kreatif, dan ruang kebersamaan bagi generasi muda Demak untuk mencintai sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islam dengan cara yang beradab dan penuh kegembiraan.


0 Komentar