DIALOG EMPAT PILAR KEBANGSAAN: GENERASI MUDA MENYONGSONG MASA DEPAN DENGAN SEMANGAT HUMAN CAPITAL DAN TOLERANSI

Remaja Masjid Agung Demak

Dialog Empat Pilar Kebangsaan: Generasi Muda Menyongsong Masa Depan dengan Semangat Human Capital dan Toleransi


        Jumat, 13 Februari 2026, Remaja Masjid Agung Demak mengikuti kegiatan Dialog Empat Pilar Kebangsaan bagi Generasi Muda Menyongsong Masa Depan dengan menghadirkan narasumber Dr. H. Muhdi, S.H., M.Hum., Anggota MPR RI Dapil Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kegiatan yang menekankan pentingnya membangun human capital atau kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Generasi muda tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga karakter kuat, daya juang, serta kemampuan beradaptasi. Beliau mengingatkan, “Anak muda zaman sekarang banyak yang santai, waktu tua susah.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa masa muda adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan masa depan dengan sungguh-sungguh.

Selain human capital, pembangunan bangsa juga memerlukan modal masyarakat yang kuat dan kelembagaan yang sehat. Sinergi antara individu, masyarakat, dan institusi menjadi penopang keberlanjutan pembangunan nasional. Dalam konteks ini, penguatan Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, menjadi dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam dialog nya, Beliau juga menegaskan bahwa kemandirian bukan berarti harus melakukan segala sesuatu sendirian. “Mandiri paling bagus bukan yang apa-apa sendiri, tapi yang pantang menyerah dan tidak takut sendiri.” Sikap pantang menyerah dan keberanian menghadapi tantangan merupakan kunci penting dalam meraih kesuksesan. Sebab, “Tidak ada hasil besar dengan pengorbanan yang kecil,” ujar beliau menambahkan.

Dalam sesi diskusi, dijelaskan pula bahwa kunci orang sukses terletak pada dua hal utama: mampu diterima dan merasa nyaman dengan orang lain, serta menjadikan komunikasi sebagai kunci utama dalam membangun relasi. Kemampuan berinteraksi dan bekerja sama menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, Isu kepemimpinan dan masa depan bangsa juga turut dibahas. Beliau menyampaikan bahwa kehancuran bangsa bisa terjadi jika generasi mudanya tidak dipersiapkan dengan baik. Anak santri memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin negara, apalagi dengan adanya akses yang semakin terbuka untuk melanjutkan pendidikan tinggi, termasuk bagi para penghafal Al-Qur’an. Namun demikian, kepemimpinan tidak dapat hanya berlandaskan latar belakang semata. Tidak cukup mengatakan mampu memimpin negara hanya karena berasal dari pondok tertentu atau merupakan anak dari tokoh tertentu. Kepemimpinan harus dibangun atas kapasitas, integritas, dan kompetensi.

Lebih lanjut, pentingnya menjaga toleransi dan menghindari politik identitas juga menjadi perhatian utama. Adanya perkumpulan remaja lintas agama dipandang sebagai salah satu upaya konkret dalam merawat keberagaman. Remaja masjid, misalnya, tidak cukup hanya berkumpul dengan sesama komunitasnya. Untuk memahami dunia yang lebih luas, mereka perlu berani membuka diri dan berinteraksi dengan berbagai kalangan. Dengan demikian, wawasan akan semakin luas dan sikap toleransi dapat tumbuh secara alami.

Sebagai penutup, beliau mengajak generasi muda untuk membiasakan “berpikir tawaf”, yaitu ketika menerima suatu informasi tidak langsung mempercayainya, melainkan melakukan cek dan re-cek terlebih dahulu. Sikap kritis dan bijak dalam menyaring informasi menjadi kebutuhan penting di era digital saat ini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda semakin sadar akan perannya sebagai agen perubahan. Dengan memperkuat kualitas diri, menjaga toleransi, serta berpegang teguh pada Empat Pilar Kebangsaan, generasi muda diharapkan mampu menyongsong masa depan Indonesia dengan optimisme dan tanggung jawab.


Penulis dan Editor : Saffana Mutiara 

Dok :




0 Komentar